- Bisa dimulai dengan modal sangat kecil, kurang dari 1 juta
- Permintaan pasar yang masih sangat tinggi. Kebutuhan pasar jamur
pada tahun 2015 diperkirakan sekitar 17.500 ton dan saat ini baru
terpenuhi 13.825 ton pertahun
- Bisnis yang bisa untung tiap hari. Dengan pengelolaan khusus maka kita bisa panen setiap hari, untung setiap hari.
- Bisnis yang paling cepat balik modalnya. Modal 1 baglog jamur,
kembali hanya dengan hasil panen pertama. Jamur bisa 3-4 kali panen.
- Bisnis yang punya banyak produk turunan. Anda gak perlu khawatir
prodk Anda gak laku dipasaran karena bisa Anda jual dalam berbagai
bentuk produk olahan jamur.
- Bisnis yang gak perlu skill khusus. Artinya, siapapun bisa berbisnis jamur asal tahu kuncinya.
Banyak Orang yang belum tahu potensi besar bisnis ini.
Segera Raih Peluang ini!
Jangan tunda lagi!
atau Anda bisa kehilangan peluang besar ini!

Menurut data yang dibuat
BPS (Badan Pusat Statistik),
konsumsi sayur masyarakat Indonesia pada tahun 2002 tercatat sebesar
30,8 kg/kapita/tahun. Badan kesehatan dunia (FAO) menyatakan bahwa
jumlah konsumsi sayuran untuk memenuhi standar kesehatan adalah sebesar
65 kg/kapita/tahun. Dari kedua data tersebut terlihat bahwa konsumsi
sayur masyarakat Indonesia belum separuhnya dari rekomendasi FAO.
Kondisi inilah yang menjadikan peluang usaha jamur konsumsi di dalam
negeri masih sangat terbuka lebar.

Kebutuhan
konsumsi jamur di dunia juga terus meningkat sebanding dengan
pertumbuhan jumlah penduduk dan pendapatan serta perubahan pola konsumsi
makanan penduduk dunia.
Negara-negara konsumen jamur terbesar
di dunia adalah Amerika Serikat (AS), Kanada, Jerman, Jepang, Hongkong,
Belgia, Inggris, Belanda, dan ltalia. Rata-rata konsumsi jamur
per kapita penduduk Kanada dan negara-negara Eropa melebihi 1,5
kg/kapita/tahun. Sedangkan konsumsi rata-rata penduduk Inggris dan AS
masing-masing sekitar 1 kg/kapita/tahun dan 0,5 kg/kapita/tahun.

Sebagai gambaran, di Kota
Bandung,
seorang pengusaha katering skala menengah membutuhkan sedikitnya 200 kg
jamur/minggu. Jika di kota tersebut terdapat minimum 10 catering skala
menengah seperti ini, kebutuhan jamur mencapai
2 ton/minggu. Bagaimana dengan kota lainnya?
Permintaan pasar terhadap kebutuhan jamur di kota
Bogor, Sukabumi, dan sekitar Jakarta saat ini diperkirakan mencapai 5 s/d
10 ton perbulan. Permintaan jamur terus meningkat, berapa pun yang diproduksi oleh petani habis terserap. Kenaikannya sekitar 20%—25% pertahun.

Gambaran
tersebut baru merupakan kebutuhan pasar dalam bentuk jamur segar.
Padahal jamur konsumsi tidak hanya dipasarkan dalam keadaan segar,
tetapi juga
dapat diolah lebih lanjut menjadi produk olahan siap saji seperti keripik jamur, abon jamur, nughet jamur,
dan makanan olahan jamur lain. Produk-produk tersebut selain
meningkatkan nilai tambah juga merupakan perluasan pemasaran untuk
menjaring lebih banyak konsumen.

Sampai saat ini jamur lebih banyak diproduksi di Jawa. Berdasar data
MAJI (Masyarakat Agribisnis Jamur Indonesia), setiap hari Jabar memproduksi
15—20 ton jamur merang dan 10 ton jamur tiram.
Sementara Jateng sebagai sentra jamur kuping dan shiitake, setiap hari
memproduksi 1 ton jamur kuping dan 500 kg/hari jamur shiitake. Sebagian
besar produksi jamur dipasarkan dalam bentuk segar. Jamur-jamur tersebut
kebanyakan dipasarkan ke kota-kota besar yang menjadi tujuan pasar
utama jamur selama ini.

Pasar jamur
Jakarta
misalnya, dipasok dari Karawang, Bandung, Bogor, dan Sukabumi. Dari
Cisarua-Bandung saja, setiap hari, tidak kurang dari 3 ton jamur tiram
masuk Jakarta. Ir. Misa, M.Sc., petani jamur merang di Karawang,
memprediksi, kebutuhan pasar Jakarta terhadap jamur merang sekitar
15 ton/hari.
Sementara Karawang baru mampu memasok 3 ton. Untuk jamur kuping
terutama diserap pasar Jateng lantaran banyak dibutuhkan industri jamu.
Walau demikian, jamur kuping dari Jateng pun masuk Bandung, sehari tidak
kurang dari 200 kg. Pasar jamur terbuka lebar.
Oleh karena itu, berbisnis jamur sungguh merupakan peluang bisnis yang luar biasa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar